Senin, 27 Februari 2012

Miskin Tapi Bahagia

Orang termiskin yang aku ketahui adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa kecuali uang. – John D. Rockefeller JR

Dalam rubrik Kilasan Kawat Sedunia, Harian KOMPAS pernah memuat ringkasan hasil survei yang menarik perhatian saya. Ia menceritakan hubungan antara uang—indikator utama yang sering dipergunakan untuk mengukur seberapa kaya atau seberapa miskin seorang anak manusia itu—dengan kebahagiaan. Survei yang unik dan jarang dilakukan ini—setahu saya belum pernah ada survei semacam ini di Indonesia—mungkin dapat memberi pelajaran tertentu pada kita. Berikut petikannya:

Pemeo "uang tak bisa membeli kebahagiaan" ternyata memang benar. Sebuah survei di Australia menunjukkan, kaum kelas menengah di Sydney masuk kategori warga yang paling menderita di Australia. Sebaliknya, tingkat kebahagiaan warga yang hidup di beberapa daerah pemukiman paling miskin malah lebih tinggi.

"Pengaruh uang pada kebahagiaan nyatanya hanya terasa pada golongan yang luar biasa kaya," kata Liz Eckerman, peneliti dari Universitas Deakin, seperti dikutip kantor berita AFP, Senin (13/2).

"Uang tak bisa membeli kebahagiaan. Ini jelas terbukti dalam jajak pendapat yang kami lakukan pada 23.000 warga yang sudah kami wawancarai," kata Eckerman kepada Radio Australia, ABC.

Temuan-temuan yang disusun sejak tahun 2001 menunjukkan bahwa di Australia, negara dimana tak ada kesenjangan kemakmuran yang ekstrem, mereka yang hidup paling bahagia ada di lapisan bawah.
Mereka yang happy juga lebih banyak berada dalam kategori usia 55 tahun atau lebih, lebih banyak di antara kaum perempuan, dan kebanyakan pula ada di antara mereka yang menikah alias yang tak men-
jomblo.

Survei ditujukan untuk mengungkap kepuasan seseorang terkait dengan berbagai hal, seperti standar hidup, kesehatan, pencapaian dalam hidup, dan keamanan. Di antara 150 daerah sasaran survei, salah satu daerah termiskin di Australia, yakni Wide Bay di pedalaman Queensland, penduduknya ternyata termasuk yang paling bahagia di negeri kangguru itu.

Terus terang, saya tidak tahu seberapa banyak uang yang harus dimiliki seseorang untuk bisa masuk dalam kategori kelas menengah di Sydney. Juga tidak terlalu jelas bagi saya berapa jumlah uang yang dimiliki oleh rata-rata penduduk Wide bay di pedalaman Queensland, sehingga mereka disebut daerah termiskin di negara tersebut. Lalu, berapa pula harta yang dimiliki seseorang agar bisa disebut Eckerman
sebagai "luar biasa kaya"? Datanya tidak disebutkan oleh KOMPAS.

Namun, terlepas dari minimnya data yang bisa kita peroleh, tetaplah menarik ketika Eckerman, peneliti itu, membuat kesimpulan bahwa yang hidup paling bahagia di Australia adalah penduduk di lapisan bawah (miskin); kebanyakan berusia 55 tahun atau lebih; kebanyakan perempuan; dan kebanyakan menikah. Mereka inilah yang paling merasa puas dengan standar hidup mereka, puas dengan kesehatan mereka, puas dengan pencapaian dalam hidup mereka, dan puas dengan keamanan di lingkungannya. Mereka inilah orang-orang yang miskin, tetapi kaya. Miskin dalam harta benda, tetapi kaya dalam kepuasan hidup. Sungguh sebuah realitas yang memesona.

Ada beberapa pelajaran yang saya pulung dari survei di atas. Pertama, saya menduga penelitian tersebut menempatkan rasa puas---atas standar hidup; atas kesehatan; atas pencapaian dalam hidup; dan atas keamanan di lingkungannya- --sebagai indikator utama kebahagiaan. Dan jika hal itu kita gunakan untuk bercermin, maka kita bisa mencoba menjawab empat pertanyaan berikut:

1. Apakah saya puas dengan standar hidup kita sejauh ini?
2. Apakah saya puas dengan kesehatan saya sejauh ini?
3. Apakah saya puas dengan apa yang sudah saya capai dalam hidup sejauh ini?
4. Apakah saya puas dengan keamanan di lingkungan saya sejauh ini?

Bisakah kita menjawab YA dengan mantap untuk keempat pertanyaan sederhana semacam itu? Atau mungkin jawaban kita perlu diberi bobot tertentu, katakanlah untuk tiap jawaban menggunakan skala 1-5. Angka 1 berarti TIDAK PUAS SAMA SEKALI, angka 2 berarti TIDAK PUAS; angka 3 berarti CUKUP PUAS; angka 4 berarti PUAS; dan angka 5 berarti SANGAT PUAS. Sehingga, total nilai 12 berarti CUKUP PUAS dan total nilai 20 berarti SANGAT PUAS. Mereka yang bisa mengumpulkan nilai mendekati angka 20-lah yang pantas kita anggap bahagia. Nah, dengan demikian kita bisa mengukur seberapa bahagia diri kita masing-masing, setidaknya untuk saat ini. Lalu kita juga bisa menyadari pada bagian mana dari keempat hal tersebut yang kita rasa paling meresahkan dan mengurangi kebahagiaan hidup kita sejauh ini. Dari sini kita kemudian bisa memikirkan cara-cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kebahagiaan kita.

Pelajaran kedua yang saya petik adalah soal hubungan antara uang/kekayaan dengan kebahagiaan. Sudah lama saya mengetahui bahwa uang dan kebahagiaan adalah dua hal yang tidak selalu berkaitan.
Setidaknya saya mengenal sejumlah kawan yang punya uang miliaran
rupiah dan kadang mengaku bahwa hidupnya tidak bahagia. Sementara itu sejumlah kawan lain yang uangnya tidak sampai miliaran tak pernah saya dengar mengeluhkan soal apakah dirinya bahagia atau tidak. Jadi saya sering bingung jika melihat sebagian kawan berjuang mati-matian untuk bisa kaya karena percaya kalau kekayaan bisa membuat mereka pasti bahagia. Sementara yang sudah jauh lebih kaya, mengaku tidak bahagia. Nah, atas kebingungan inilah survei Eckerman tadi bisa memberi sedikit penjelasan. Hanya pada orang atau golongan yang "luar biasa kaya", ada hubungan antara uang mereka dengan kebahagiaan mereka. Seakan-akan ada semacam ambang batas kekayaan yang bisa membuat kekayaan itu berdampak langsung pada kebahagiaan. Ambang batas itu tidak disebut, mungkin satu juta dolar Amerika, atau jumlah yang lebih besar.

Pelajaran ketiga, dan buat saya paling mengesankan, adalah kesimpulan survei tersebut yang menunjuk sebuah daerah termiskin di pedalaman Queensland memiliki penduduk yang paling bahagia. Kesimpulan ini sungguh membesarkan hati. Sebab ini membuka kemungkinan bahwa kawan-kawan saya di pelosok-pelosok yang sulit terjangkau sarana transportasi modern—seperti di Papua, misalnya—amat boleh jadi adalah orang-orang yang paling bahagia hidupnya.

Nah, apakah Anda kaya atau Anda bahagia?

Senin, 10 Mei 2010

Cinta Tanpa Syarat

Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, "Kakek, Nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara Kakek dan Nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar."

Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. "Aha, Nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian," kata kakek.

Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. "Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul `bagaimana memperkuat tali pernikahan'. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini," kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.

Lalu nenek melanjutkan, "Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita." Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. "Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi.... kosong. kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek."

Nenek segera menimpali, "Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apa pun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua."

Pembaca yang budiman,

Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.

Salam sukses luar biasa!!!

Sumber: Cinta Tanpa Syarat oleh Andrie Wongso

Rabu, 17 Februari 2010

Di Balik Kesuksesan dan Kebahagiaan Hidup Pria dan Wanita


Ada cinta, perhatian dan penghargaan dibalik kesuksesan dan kebahagiaan pria dan wanita. Tak heran jika sampai ada pepatah mengatakan bahwa di belakang seorang pria hebat pasti ada seorang wanita yang hebat. Begitupun sebaliknya, karena wanita dan pria diciptakan untuk saling melengkapi.

Contohnya dalam kehidupan Barrack Husein Obama, presiden AS terpilih ke-44. Tak hanya satu tetapi 3 wanita yang berperan besar terhadap kehidupan pria yang sedang hangat dibicarakan dunia akhir-akhir

karena begitu diharapkan mampu menyelesaikan masalah-masalah peperangan, inflasi, krisis keuangan global dan menorehkan sejarah baru di AS maupun dunia. Ibu, nenek dan istrinya sangat berpengaruh terhadap sikap, pola pikir, hingga proses ia terpilih menjadi presiden pada tanggal 5 Oktober 2008 lalu.

Barrack Husein Obama adalah putra Ann Dunham, seorang wanita asal Wichita Kansas. Ibunya dikenal pandai bergaul dan mengedepankan pendidikan putra-putrinya. Oleh sebab itu, pada tahun 1972 ia membawa Obama kembali ke Honolulu-Hawaii untuk belajar dan diasuh neneknya. Obama dianggap mewarisi kepintaran ibunya dalam bergaul dan berbahasa.

Madelyn Dunham adalah wanita yang banyak mempengaruhi pola pikir dan sikap Obama. Wanita tersebut sangat realitis, disiplin, dan hanya berbicara seperlunya. Sikap dan pola pikir Obama pun terbentuk tak jauh berbeda dengan perilaku neneknya itu.

Sedangkan Michelle Robinson adalah wanita yang dinikahi Obama pada tanggal 3 Oktober 1992. Wanita yang mendapat Juris Doctor (J.D) degree dari Sekolah Hukum Harvard dan B.A cum laude di Princenton

University tahun 1985 itu sangat besar perhatiannya terhadap keluarga terutama terhadap pendidikan kedua putrinya dan karir Obama. Ia adalah motivator yang handal bagi Obama terlebih selama masa kampanye pemilihan presiden AS.

Sejak bulan Mei 2007, wanita kelahiran Chicago 17 Januari 1964 itu makin intensif mendampingi suaminya berkampanye. Bahkan pada bulan Februari, dalam 8 hari Michelle menghadiri 33 acara dan 2 kali tampil dalam acara Oprah Winfrey Show. Michelle dianggap sebagai figur publik yang kharismatik sejak awal kampanye. Setiap pidatonya, terutama pada malam konvensi tanggal 25 Agustus 2008, telah berhasil memikat hati publik. Obama sangat beruntung memiliki istri, ibu dan nenek yang sangat membantu meraih keberhasilannya.

Begitulah wanita memiliki kekuatan sekaligus kelembutan sehingga mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan kita. Tuhan menjadikan wanita mahkluk verbal, yang dapat menyebabkan orang lain merasa nyaman dan bahagia, tetapi juga dapat menyebabkan frustasi dan stres. Begitupun seorang pria, ia juga berperan besar memberikan efek positif ataupun negatif.

Masing-masing individu, pria atau wanita sama-sama berperan penting sebagai agen perubahan positif, dengan syarat harus ada nilai-nilai penghargaan, perhatian dan cinta yang terpelihara diantara keduanya. Wanita memerlukan cinta, perhatian dan penghargaan seperti membutuhkan udara untuk bernafas, begitupun laki-laki. Oleh sebab itu perlakukan pasangan dengan cinta, perhatian dan penghargaan yang ia butuhkan, sebab setiap orang diciptakan sama-sama memiliki kekuatan sekaligus harga diri.

Penghargaan meliputi perhatian terhadap apa yang mereka lakukan, membiarkan masing-masing menjadi diri mereka sendiri dan berbeda dari diri Anda. Laki-laki dan perempuan sama-sama ingin dimengerti dan dihargai atas apa yang telah mereka usahakan. Untuk itu berusahalah saling mengikuti harapan atau kebijaksanaan masing-masing. Bertumbuhlah bersama, termasuk dalam hal intelektual.

Sementara itu, laki-laki dan perempuan mempunyai bahasa yang berbeda dalam mengungkapkan cinta, perhatian dan penghargaan. Dalam banyak hal wanita dan pria juga mempunyai cara yang berbeda dalam mengekspresikan cinta, perhatian dan penghargaan. Oleh sebab itu buatlah jurnal atau catatan yang dapat mengingatkan Anda untuk menghargai cinta dan perhatian pasangan.

Tentu saja tanpa memberi cinta, perhatian dan penghargaan terhadap orang lain maka Anda akan kesulitan mendapatkan hal serupa. "Jika ingin mengambil, Anda harus memberi lebih dulu. Inilah awal mula kecerdasan," kata Lao Tzu (600-531 SM), seorang filsuf Cina, penemu ajaran Taoisme. Oleh sebab itu jangan segan mengekspresikan cinta, perhatian, dan penghargaan yang tulus terhadap pasangan. Karena Anda juga akan mendapatkan cinta dan penghargaan, yaitu modal maya paling berharga dibalik keberhasilan dan kebahagiaan hidup Anda.

Sumber: Di Balik Kesuksesan dan Kebahagiaan Hidup Pria dan Wanita oleh Andrew Ho, seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.

Goal Seeker vs Goal Getter

"Goals are not only absolutely necessary to motivate us. They are essential to really keep us alive." -Robert H. Schuller



Pada penghujung 2008 ini, alangkah baiknya jika kita mulai menentukan kembali goal yang akan kita raih pada 2009 atau mungkin akan diwujudkan dalam kehidupan kita. Berbicara soal goal dan tujuan hidup, di sinilah kita bisa bedakan dua tipe orang.

Orang yang pertama kita kategorikan sebagai goal seeker, dan kedua kita sebut goal getter. Goal seeker, adalah tipe orang yang selalu terus-menerus mencari goal. Goal getter adalah tipe orang yang selalu berusaha mewujudkan goal yang telah dicanangkannya. Semuanya memang berawal dan dimulai dari sebuah proses yang namanya goal.

Seorang yang belum memiliki goal yang jelas dan spesifik dalam hidupnya haruslah memulai langkah pertamanya dengan membuat suatu tujuan, yaitu menentukan apa yang sebenarnya mau diraih dalam hidup ini. Perilaku inilah yang sebenarnya kita sebut sebagai goal seeker.

Goal seeker biasanya memulai menemukan goal-nya baik dengan cara merenungkan goal hidupnya, ataupun dengan memodel orang-orang yang telah berhasil dalam pencapaian goal tersebut sehingga terinspirasi juga untuk mencapai goal yang sama bahkan lebih.

Siapa pun yang sukses, akan setuju bagaimana goal memiliki peranan yang penting dalam kehidupan mereka. Bahkan fisikawan Albert Einstein pun mengatakan, "If you want to live a happy life, tie it to a goal, not to people or things."

Ya, untuk menghidupi kehidupan yang bahagia, tentunya harus mengikatkannya dengan sebuah goal yang jelas. Namun, kehidupan tidaklah boleh berhenti hanya pada tataran membuat goal saja. Itulah yang banyak dialami oleh orang yang hidupnya mandek.

Setelah seorang goal seeker menemukan apa yang akan diraihnya, berikutnya dia harus bergerak menjadi goal getter. Dalam proses menuju goal getter, seorang goal seeker biasanya harus melewati banyak rintangan dan hambatan. Di sinilah godaannya. Sering terjadi, para goal seeker jadi frustrasi, menyerah bahkan akhirnya menyibukkan diri dengan terus-menerus mencari goal yang baru, dan mengganti goal lama yang sebenarnya belum pernah diusahakan sama sekali.

Inilah titik kritis di mana kalau goal seeker tidak mengalami transformasi menjadi seorang goal getter, waktu hidupnya akan terus-menerus dipakai untuk mencari goal yang baru. Akibatnya, setelah beberapa lama, entah beberapa bulan bahkan beberapa tahun, goal seeker tidak menghasilkan apa-apa sama sekali. Mereka kelihatan sibuk, tetapi pada dasarnya tidak menghasilkan apa pun (busy but not productive!) .

Rasanya kita perlu mengingat kata-kata bijak dari co-writer buku The Power of Focus, yakni Les Brown yang mengatakan "You must take action now that will move you towards your goals. Develop a sense of

urgency in your life."

Ya, diperlukan tindakan dan sesegera mungkin menjadi goal getter. Ambillah tindakan yang makin mengarahkan Anda menuju goal. Bangun terus sense of urgency dalam mencapai goal tersebut dengan melakukan transisi menjadi seorang goal getter, bukan hanya berhenti pada bermimpi saja.

Jadi manusia langka

Ada begitu banyak goal setter di dunia ini, tetapi sedikit sekali yang bisa berubah menjadi goal getter. Jadilah bagian dari manusia-manusia yang langka ini sehingga hidup Anda bukan hanya berisi ilusi semata, melainkan juga betul-betul menjadi sebuah realita yang bisa Anda nikmati, setelah Anda melewati berbagai rintangan di depan goal tersebut.

Dalam hal ini kita perlu belajar dari William Clement Stone, salah satu orang terkaya di Amerika yang merajut hidupnya dari mimpi-mimpi yang direalisasikannya sejak kecil. Bahkan, dengan beraninya, untuk

mewujudkan mimpinya, sejak kecil dia nekat menjual koran di restoran.

Tahukah Anda, pada masa itu, menjual koran di restoran adalah hal yang tabu dan belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, dengan sikapnya yang persisten, ramah serta persuasif, akhirnya diceritakan bagaimana William meluluhkan hati para pemilik restoran untuk pertama kalinya mengizinkan seorang anak gembel menjual koran di restoran mereka.

Para pemilik restoran ini sama sekali tidak menyangka bahwa akhirnya, anak gembel yang gigih dengan semangatnya ini akan menjadi salah satu orang terkaya di Amerika yang memiliki bisnis asuransi terbesar pada masanya bahkan menjadi penulis berbagai buku tentang mental positif.

Dalam bukunya yang terkenal The Success System That Never Fails, dia berkata, "To solve a problem or to reach a goal, you don't need to know all the answers in advance. But you must have a clear idea of the problem or the goal you want to reach." Dengan kata lain, William mengingatkan para goal getter mereka perlu memiliki kejelasan yang sangat jelas, spesifik dan detail tentang goal yang mau diraihnya.

Semakin spesifik dan semakin detail goal yang mau diraih bagi seorang goal getter, semakin jelas dan memudahkan bagi seorang goal getter untuk meraih goal yang telah ditentukannya saat mengalami transformasi dari goal seeker menjadi seorang goal getter.

Bahkan, Anda mungkin pernah mendengar ada pepatah yang mengatakan, "A goal properly set is halfway reached." Saat goal sudah ditentukan, perjalanan seorang goal seeker menjadi goal getter hanya tinggal setengah perjalanan lagi, tinggal membuat perencanaan-perencanaan dan tindakan-tindakan yang akhirnya akan mengarahkannya menjadi seorang goal getter.

Berikutnya, untuk memulai realisasi goal yang telah ditentukan, hal terpenting bagi seorang goal getter adalah menciptakan momentum. Momentum, berarti mengambil sebuah tindakan, entah tindakan itu

besar ataupun kecil, tapi mulai melakukan aksi yang intinya membawanya semakin dekat pada tujuannya.

Tindakan itulah yang diperlukan agar mereka mulai termotivasi untuk segera mewujudkan goal itu. Benarlah sebuah kalimat bijak yang dikatakan oleh motivator nomor satu dunia, Anthony Robbins. "The

most important thing you can do to achieve your goals is to make sure that as soon as you set them, you immediately begin to create momentum. "

Dalam rangka menciptakan momentum ini, biasanya hambatan yang paling sering dialami oleh seorang goal seeker adalah dalih (excuse) bahwa mereka membutuhkan dan mencari 'timing' atau waktu yang tepat.

Marilah kita percaya, waktu yang tepat itu tidak pernah ada. Waktu yang paling tepat itu sebenarnya sekarang. Marilah kita simak tip yang diberikan oleh Napoleon Hill, penulis buku Think and Grow Rich yang mengatakan, "Don't wait. The time will never be just right."

Sekali lagi, waktu yang terbaik tentu saja sekarang. Janganlah bermimpi bahwa akan ada waktu yang pas. Mulailah berani mengambil langkah-langkah awal yang yang akan menuntun kita semakin dekat dengan goal kita.

Yang jelas, penyebab seorang goal seeker gagal menjadi seorang goal getter adalah kurang atau tidak adanya tindakan untuk merealisasikan goal. Saya mengenal seorang sahabat saya yang punya rencana membangun bisnis media sejak 5 tahun yang lalu. Sampai sekarang pun dia masih terus mencita-citakannya.

Itulah contoh goal seeker yang terus-menerus berada di penantiannya. Jangan menjadi pribadi yang demikian. Marilah, mulai saat ini jadilah seorang goal getter bukan sekadar goal seeker yang selalu terus-menerus membuat goal. Jadikan 2009 menjadi tahun yang

spektakuler bagi Anda, bukan hanya karena banyaknya jumlah impian Anda melainkan juga karena banyak impian Anda yang bisa terwujud!

Sumber: Goal Seeker vs Goal Getter oleh Anthony Dio Martin, Managing Director HR Excellency.

Berani Mengambil Risiko

“Kapal akan aman bila berada di pelabuhan, tetapi kapal tidak diciptakan untuk itu.”

-- Grace Murray Hopper, ahli matematika, penemu teknologi komputer, 1906-1992

MEJA itu terisi oleh empat orang dengan empat cangkir kopi panas. Farid mengundang kawan-kawan dekatnya untuk minum kopi di sebuah kedai kopi di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sambil sesekali menghirup kopi panas dihadapannya, Farid bercerita bahwa dirinya seminggu yang lalu baru saja terkena PHK. PHK, yang kata para pengamat ekonomi, akibat dampak krisis global yang terjadi saat ini. Untungnya, seperti kata Farid, ia masih diberi uang pesangon oleh perusahaannya. Dalam curhatnya, ia mengatakan akan mencoba melakukan usaha dari uang pesangon yang diterimanya.

Tapi ada satu hal yang membuat Farid bimbang. Ia tak siap mengambil risiko kehilangan semua modal pesangonnya bila ternyata usahanya merugi. Risiko? Betul. Satu kata yang kelihatannya menjadi momok bagi sebagian orang.

Bicara mengenai risiko, seperti kata William J. Bernstein dalam bukunya ‘The Four Pillars of Investing', “Risk, like pornography, is difficult to define, but we think we know it when we see it.” Risiko, seperti pornograpi, sukar untuk didefinisikan, tapi kita akan mengetahuinya bila kita telah melihatnya. Begitu pula risiko, kita akan mengetahui dan merasakannya bila kita telah menjalaninya.

Seperti Farid, banyak orang memang merasa tak nyaman dalam mengambil risiko. Takut mengambil risiko justeru dapat mengakibatkan batu sandungan. Hal itu malah menghambat mereka untuk dapat berkembang lebih baik dalam menjalani hidup, usaha, atau karir mereka sendiri.

Sebaliknya, bila berani mengambil risiko, artinya kita telah berani menjalani kehidupan itu sendiri. Juga menunjukkan bahwa kita yakin akan mendapatkan suatu pelajaran berharga dari setiap risiko yang diambil. Tentu saja bukan berarti melangkah tanpa perhitungan yang matang. Satu rahasia orang-orang yang telah sukses, seperti yang mereka ungkapkan, adalah bahwa mereka sering mengambil risiko dalam bertindak.

Lantas, mengapa sebagian orang enggan untuk mengambil risiko? Jawabannya sederhana. Mereka takut gagal, berpikir tak dapat melakukannya, atau merasa belum mahir dan berbakat. Keberanian mengambil risiko, sesungguhnya lebih menunjukkan kepada karakter dan mental seseorang. Bukan pada besar kecilnya risiko yang dihadapi. Kualitas seseorang tidak ditentukan dari peristiwa yang datang menghampirinya, tapi dari respon yang ia berikan dari peristiwanya itu sendiri.

Kunci utama dalam mengatasi ketakutan dalam mengambil risiko ialah percaya diri dan selalu berpikir positif. Dengan percaya diri, hal itu akan menambah energi yang ada dalam diri kita sebelum benar-benar bertindak. Dan dengan berpikir positif, akan membuat langkah kita menjadi ringan dalam bertindak.

Yakinlah, bahwa ketika kita telah memutuskan untuk mengambil risiko, akan ada jalan yang terbuka bagi kita nantinya. Jangan takut bila gagal. Karena ada setiap pelajaran yang dapat dipetik, entah gagal ataupun sukses, terhadap risiko yang kita ambil.

Orang yang telah berhasil mencapai sesuatu, seringkali tidak menyangka sebelumnya kalau sebenarnya ia mampu melakukannya. Padahal asal ada keinginan yang kuat, mereka dapat melakukan sesuatu, yang katakanlah, bahkan di luar perhitungan mereka sendiri sebelumnya.

Jadi, bila ada tantangan menghampiri kita, sambutlah dengan semangat dan antusias yang tinggi. Bila ada peluang yang dapat mengubah hidup Anda menjadi lebih baik, jangan takut untuk mengambil risiko. Diana Ackerman, penulis kondang asal Amerika mengatakan, “I don't want to get to the end of my life and find that I lived just the length of it. I want to have lived the width of it as well.” Atau dengan kata lain, "Saya tak ingin di akhir hidup saya dan menyadari bahwa saya hanya menjalani panjangnya saja. Saya pun ingin menjalani lebarnya."

Ackerman benar. Luasnya kehidupan merupakan panjang kali lebar kehidupan itu sendiri. Kadang kita tidak menyadari, bahwa ketika kita menjalani kehidupan saat ini, kita telah mengambil risiko-risiko di dalamnya. Ya, apapun kehidupan yang terjadi. Yang sebenarnya tak hanya terkait masalah ’survival’ ekonomi semata. Ada risiko politik, manajemen, inovasi, dan risiko-risiko lainnya.

Sebuah kapal memang akan terlihat besar, indah, dan gagah ketika berada di pelabuhan. Tetapi kapal diciptakan tidak untuk berada di pelabuhan. Sebuah kapal akan bermakna dan memiliki nilai, ketika ia berada di tengah samudra luas, dalam mengarungi lautan, menghadapi terjangan ombak, dan melewati rintangan badai. Ketika sang kapal telah mencapai tujuan, ia telah menjalankan satu tugasnya dengan baik. Perjalanan berikut telah menantinya. Begitu seterusnya.

Sama halnya dengan sebuah kapal. Bila Anda tak mau menerima tantangan dan mengambil risiko, maka Anda tak akan merasakan dan menikmati getar kemenangan dan kesuksesan, kecuali getir kekalahan dan kepahitan hidup Anda. (151208)

Sumber: Berani Mengambil Risiko oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Jumat, 05 Februari 2010

Ketika Uang Menjadi Panglima

“Uang hanyalah sebuah alat. Ia dapat membawa Anda kemanapun tempat yang di inginkan, tetapi ia tak akan dapat menggantikan Anda sebagai pengemudinya.”

-- Ayn Rand, penulis asal Amerika kelahiran Rusia, 1905-1982

BEBERAPA waktu yang lalu seorang penegak hukum diberitakan tertangkap basah menerima uang suap dalam jumlah miliaran rupiah terkait kasus yang diselidikinya. Reputasinya yang selama ini dikenal baik, hancur lebur dalam sesaat. Perjalanan karirnya pun akhirnya terhenti cukup sampai disini. Anggota Dewan kita yang terhormat pun tak luput dari berita yang tak sedap. Walau penghasilan resminya di atas rata-rata dibandingkan penghasilan kebanyakan rakyat, plus ditambah tunjangan sana-sini, tetapi toh tetap saja kita mendengar ada Anggota Dewan tertangkap basah sedang menerima suap. Banyak kasus serupa yang terjadi. Mulai dari penegak hukum, Anggota Dewan, hingga pejabat Pemerintah level bawah, terlibat kasus suap.

Kesemua kasus tersebut bermuara pada satu hal, yakni uang. Pada satu titik tertentu, uang mungkin menjadi sumber masalah, tetapi di titik lain, uang dapat pula menjadi sumber kebahagiaan. Kahlil Gibran, seorang penyair kelahiran Lebanon, pernah mengingatkan, “Uang seperti cinta, yang dapat membunuh dan melukai orang yang hanya bisa menggenggamnya saja, tapi juga dapat menjadi penambah semarak kehidupan bagi yang dapat memberikannya kepada orang lain.”

Sebagian orang mempersepsikan, bahwa dengan memiliki banyak uang akan membuat hidup menjadi lebih baik dan bahagia. Pada tingkat tertentu, bisa jadi uang mungkin dapat memberikan kebahagiaan. Seseorang tidak harus memiliki banyak uang untuk menjadi bahagia. Sebaliknya, jika tidak memiliki uang yang cukup, tidak berarti orang tidak bisa bahagia.

Pada hakekatnya, kebahagiaan lebih ditentukan oleh pikiran dan hati yang ada dalam diri seseorang. Jika sedari awal Anda berpikir dan merasa tidak bahagia, maka tidak bahagialah Anda. Barangkali malang bagi mereka yang berpikir seperti ini. Pepatah yang mengatakan bahwa uang tak dapat membeli kebahagiaan mungkin ada benarnya. Meskipun harus diakui uang dapat mempercepat proses mencapai kebahagiaan tersebut jika diperoleh dan digunakan secara bijaksana.

Tak selamanya orang melakukan sesuatu demi uang. Seorang public figure di negeri ini rela melepaskan jabatan komisaris di berbagai perusahaan, hanya untuk menjadi seorang pejabat publik. Padahal insentif yang didapatkan ketika ia menjadi pejabat publik jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya ketika ia masih menjabat komisaris di berbagai perusahaan tersebut. Tetapi mengapa ia mau melakukan hal itu? Ternyata ada hal yang lebih bermakna daripada sekedar uang. Ada tingkat kepuasan tertentu yang dirasakan ketika ia menjabat sebagai pejabat publik. Pekerjaan-pekerjaan yang digeluti merupakan sesuatu hal yang jauh lebih bermakna. Nilainya dirasakan jauh lebih berharga daripada hanya sekedar uang.

Memiliki uang memang jauh lebih baik daripada tidak memilikinya. Kepemilikan atas uang mungkin diperlukan, misalnya untuk menjalani hidup ini atau untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. Dengan uang, Anda dapat melakukan banyak hal. Namun mungkin perlu disadari, bahwa uang sesungguhnya hanyalah suatu cara, suatu alat bantu untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri atau penggantinya.

Ketika orang-orang mulai meletakkan uang sebagai sesuatu keharusan dan akhir dari apa yang dicari, barangkali disitulah awal mula kekeliruan yang terus berlanjut pada kekeliruan berikutnya yang lebih fatal. Karena akhirnya uang menjadi panglima atas dirinya, bukan sebaliknya. Uang seharusnya diletakkan dalam fungsi sebagai instrumen belaka, dan selayaknya harus berada di bawah kendali kita.

Berbicara tentang uang tidak akan pernah habis, karena begitu besar pengaruhnya dalam seluruh aspek kehidupan kita. Tetapi seperti juga benda-benda kebutuhan hidup lainnya, sesungguhnya masih banyak di dunia ini yang jauh lebih penting daripada sekedar uang. Tujuan hidup kita di dunia ini misalnya, seringkali terlupakan, termasuk upaya-upaya pencapaiannya, karena terlampau mengacu pada uang dan materi yang menjadi tolok ukurnya. Akibatnya, kita lalai dalam mengukur hal-hal yang seharusnya tidak dapat diukur dengan uang, kebahagiaan misalnya.

Barangkali kita harus memulai sebuah perencanaan hidup yang lebih baik, yang menempatkan uang bukan sebagai satuan ukuran semata. Melainkan sebagai bagian untuk mewujudkan rencana hidup kita dalam mencapai tujuan hidup yang lebih mulia di dunia ini, sesuai dengan cara dan kecepatan kita dan yang kita inginkan. Semoga. (221208)

Sumber: Ketika Uang Menjadi Panglima oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Rabu, 03 Februari 2010

Hidup adalah Pilihan  - Inspirasi

Ada 2 bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar,aku ingin menjejakkan akarku dalam2 di tanah ini dan menjulangkan tunas2ku diatas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi di pucuk2 daunku"...Dan bibit itupun tumbuh,makin menjulang...

Bibit yang kedua berguman..." Aku takut, jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini,aku tak tahu apa yang akan kutemui dibawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas,bukankah nanti keindahan tunas2ku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka,dan siput2 mencoba untuk memakannya? Dan pasti jika aku tumbuh dan merekah,semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak! Akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman"...Dan bibit itupun menunggu dalam kesendirian.

Beberapa pekan kemudian seekor ayam mengais tanah itu,menemukan bibit yang kedua tadi dan menaploknya segera.

Memang selalu ada saja pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon2 yang harus kita jalani. Namun seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, kebimbangan2 yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan2 untuk tak mau melangkah,tak mau menatap hidup.

Karena hidup adalah pilihan, maka hadapilah itu dengan gagah..Dan karena hidup adalah pilihan,maka pilihlah dengan bijak...

Great Inspiration - One day, the father of a very wealthy family took his son on a trip to the country with the express purpose of showing him how poor people live. They spent a couple of days and nights on the farm of what would be considered a very poor family.On their return from their trip, the father asked his son, "How was the trip?""It was great, Dad.""Did you see how poor people live?" the father asked."Oh yeah," said the son."So, tell me, what did you learn from the trip?" asked the father.The son answered: "I saw that we have one dog and they had four. We have a pool that reaches to the middle of our garden and they have a creek that has no end. We have imported lanterns in our garden and they have the stars at night. Our patio reaches to the front yard and they have the whole horizon."We have a small piece of land to live on and they have fields that go beyond our sight."We have servants who serve us, but they serve others. We buy our food, but they grow theirs."We have walls around our property to protect us, they have friends to protect them."The boy's father was speechless.Then his son added, "Thanks Dad for showing me how poor we are."

(Author Unknown) This story i took from kick andy website.gReat story, huh?